Majelis Masyarakat Maiyah Kalijagan Tlatah Demak kembali menggelar forum “sinau bareng” bulanan yang dinanti-nantikan. Acara yang telah berlangsung selama sembilan tahun ini, akhir pekan lalu, mengusung tema menarik “Gambuh”, yang merujuk pada salah satu tembang dalam tradisi macapat.
Forum yang dihadiri oleh jamaah dari berbagai daerah, tokoh masyarakat, serta perwakilan pemerintah daerah ini, menampilkan Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang akrab disapa Noe Letto sebagai narasumber utama. Kehadirannya semakin menambah semarak kajian bulanan ini.
Makna Filosofis Tembang “Gambuh”
Tembang “Gambuh” dikenal sebagai tembang ketujuh dalam tradisi macapat, setelah Pangkur dan Megatruh. Secara filosofis, “Gambuh” dimaknai sebagai pertemuan atau penyatuan berbagai unsur kehidupan. Hal ini mencakup relasi antarelemen dalam kehidupan manusia, baik secara pribadi, sosial, maupun spiritual.
Dalam pembahasannya, narasumber menekankan pentingnya pekerti dan tindakan nyata sebagai cerminan nilai diri seseorang. Hal ini menjadi sorotan utama dalam mengulas makna mendalam dari tembang “Gambuh”.
Diskusi Kebangsaan dan Realitas Sosial
Sesi dialog dalam forum tersebut berkembang menjadi refleksi kebangsaan dan realitas sosial yang dihadapi bangsa Indonesia. Mas Sabrang sendiri menyatakan bahwa kehadirannya adalah untuk berdiskusi dan belajar bersama para jamaah.
Muncul pandangan bahwa berbagai persoalan bangsa memerlukan penyelesaian yang bertahap dan kolaboratif. Salah satu poin penting yang mengemuka adalah perlunya penguatan peran masyarakat dalam membuka peluang ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Konsistensi Kajian Nilai Sunan Kalijaga
Sesepuh Kalijagan, Ali Darmo, menjelaskan bahwa Maiyah Kalijagan secara konsisten mengkaji nilai-nilai keteladanan Sunan Kalijaga. Kajian ini dilakukan melalui suluk, tembang, dan berbagai karya budaya peninggalan beliau.
“Selama sembilan tahun ini kami berupaya mengkaji ajaran dan karya-karya Sunan Kalijaga setiap bulan,” ujar Ali Darmo.
“Kehadiran Mas Sabrang menjadi bagian dari ikhtiar memperkaya pemahaman tersebut,” tambahnya.
Filosofi “Mancing” dan Manunggaling Kawulo Gusti
Perwakilan Yayasan Joglo Notobratan, Budi, menjelaskan bahwa pendopo yang menjadi lokasi kegiatan merupakan bangunan cagar budaya yang telah berdiri sejak abad ke-19. Ia juga mengaitkan filosofi “mancing” dengan makna pitulungan atau pertolongan.
Filosofi ini kemudian dikaitkan dengan ajaran manunggaling kawulo lan Gusti dalam tradisi spiritual Jawa. Nilai-nilai ini sejalan dengan semangat Forum Maiyah Kalijagan.
Forum ini berupaya menghadirkan ruang pertemuan antara dimensi budaya, spiritualitas, dan realitas sosial. Melalui tema “Gambuh” yang berarti pertemuan atau penyatuan, forum ini menjadi lebih dari sekadar tempat berkumpul fisik.
Forum ini menjadi ruang untuk menyatukan gagasan, pengalaman, dan kesadaran kolektif jamaah dalam merawat harmoni kehidupan. Hal ini menciptakan ikatan yang lebih kuat antaranggota.
Apresiasi dari Pemerintah Daerah
Acara ini turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Demak, Sugiharto, KH Ali Masydar selaku Pengasuh Pondok Al-Ishlah, serta perwakilan Yayasan Joglo Notobratan Sragen dan para penggiat Maiyah.
Sekda Demak Sugiharto memberikan apresiasi atas konsistensi Maiyah Kalijagan yang dinilainya sebagai ruang dialog sosial dan budaya yang terbuka bagi masyarakat.
“Forum seperti ini penting untuk merawat harmoni dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan di tengah kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Kegiatan ini berlangsung interaktif hingga akhir acara. Majelis Maiyah Kalijagan Demak menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan forum sinau bareng. Forum ini bertujuan menjadi ruang refleksi budaya, spiritualitas, dan kebangsaan yang inklusif serta konstruktif bagi masyarakat.



