Iuran Bidan Menumpuk hingga 2026, Transparansi Pengelolaan Dana IBI Boalemo Dipertanyakan

oleh -48 Dilihat

Ilustrasi Ketua IBI Boalemo, Susanty Pahrun, S.ST., terkait sorotan transparansi pengelolaan iuran anggota. (Foto: ilustrasi tingohu.id)


BOALEMO, TINGOHU.ID — Pengelolaan iuran Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Boalemo menjadi sorotan setelah sejumlah anggota mempertanyakan kejelasan penggunaan dana yang dikumpulkan dari iuran bulanan. Persoalan ini mencuat di tengah penagihan tunggakan iuran untuk periode 2023 hingga 2026.

Informasi yang diterima redaksi Tingohu.id menyebutkan, iuran anggota sebesar Rp35.000 per bulan. Sejumlah anggota dilaporkan telah melakukan pembayaran, sementara sebagian lainnya belum melunasi tunggakan karena mempertanyakan kejelasan penggunaan dana iuran tersebut.

Menanggapi persoalan itu, Ketua IBI Kabupaten Boalemo, Susanty Pahrun, S.ST., menjelaskan bahwa iuran anggota semestinya dibayarkan setiap bulan. Namun, menurutnya, dalam praktiknya banyak anggota yang tidak membayar secara rutin sehingga tunggakan menumpuk.

“Mekanisme untuk iuran itu setiap bulan harus dibayar, tapi kenyataan sekarang tidak dibayar setiap bulan,” jelas Susanty melalui pesan WhatsApp kepada redaksi.

Ia mengatakan, penagihan tunggakan dilakukan karena adanya permintaan dari pengurus pusat untuk mendata anggota aktif yang membayar iuran. Susanty pun berharap anggota dapat mulai mencicil tunggakan agar status keanggotaan mereka tetap tercatat aktif.

“Nah sekarang pusat minta data anggota yang aktif bayar iuran. Makanya saya berharap untuk dicicil, dengan harapan Boalemo termasuk anggota aktif,” tulisnya.

Dana Sosial Anggota Tak Lagi Berjalan

Selain persoalan tunggakan, penggunaan iuran untuk kegiatan sosial juga menjadi perhatian anggota. Salah satu hal yang dipertanyakan adalah kelanjutan bantuan bagi anggota yang sakit.

Baca Juga: 32.513 Peserta BPJS Gratis Terancam Nonaktif, Apa Antisipasi Enam Daerah di Gorontalo?

Menanggapi hal tersebut, Susanty mengakui bahwa kegiatan dana sosial bagi anggota yang sakit tidak lagi dilanjutkan. Ia menyebut banyak anggota menunda pembayaran iuran sehingga program tersebut tidak berjalan lagi.

“Untuk dana sakit saya tidak lanjut lagi karena banyak yang menunda. Itu hanya berjalan dua tahun,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menjelaskan alasan yang disampaikan Ketua IBI Boalemo terkait penghentian program dana sosial. Namun, dalam komunikasi yang diterima redaksi, belum terdapat rincian mengenai jumlah dana sosial yang pernah terkumpul, besaran bantuan yang disalurkan, maupun laporan pertanggungjawaban program selama dua tahun pelaksanaannya.

Ketua IBI Jelaskan Program Paket Ramadan

Terkait kegiatan paket Ramadan, Susanty menyatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program IBI Boalemo yang dilaksanakan setiap memasuki bulan Ramadan.

Menurutnya, bantuan disalurkan kepada anak yatim, piatu, serta masyarakat fakir miskin. Ia juga menyebut adanya kesepakatan pada tahun sebelumnya untuk memberikan bantuan kepada petugas kebersihan dan sopir di puskesmas maupun rumah sakit.

“Dan untuk paket Ramadan setiap memasuki bulan Ramadan, dan diserahkan ke kaum yatim piatu dan fakir miskin. Terakhir tahun kemarin kami sepakati CS dan sopir di puskesmas dan rumah sakit,” tulisnya.

Meski telah memberikan penjelasan mengenai sasaran kegiatan tersebut, rincian anggaran paket Ramadan, sumber pembiayaan, jumlah penerima bantuan, serta besaran dana yang digunakan belum dijelaskan secara terperinci dalam komunikasi tersebut.

Transparansi Pengelolaan Iuran Masih Dipertanyakan

Penjelasan Ketua IBI Boalemo sejauh ini lebih banyak menyangkut mekanisme pembayaran, alasan penagihan tunggakan, penghentian dana sosial, dan pelaksanaan program paket Ramadan.

Sementara itu, pertanyaan mengenai transparansi pengelolaan keuangan organisasi masih memerlukan penjelasan lebih lanjut. Di antaranya, berapa total iuran yang terkumpul selama periode 2023–2026, bagaimana rincian penerimaan dan pengeluarannya, serta apakah laporan pertanggungjawaban keuangan tersedia dan dapat diakses oleh anggota.

Kejelasan mengenai hal tersebut penting agar anggota memperoleh gambaran utuh tentang pengelolaan dana yang berasal dari iuran mereka. Di sisi lain, penagihan tunggakan juga perlu disertai informasi yang memadai mengenai kewajiban anggota dan mekanisme pertanggungjawaban pengurus.

Redaksi Tingohu.id masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari Susanty Pahrun. Ketua IBI Boalemo tersebut menyampaikan kesediaannya untuk memberikan klarifikasi melalui sambungan telepon pada hari berikutnya.

“Insyaallah saya klarifikasi dengan Bapak via telepon besok. Terima kasih,” tulis Susanty.

Redaksi akan memberikan ruang bagi Ketua IBI Boalemo untuk menyampaikan keterangan tambahan, khususnya terkait rincian penerimaan dan penggunaan iuran serta laporan pertanggungjawaban keuangan organisasi.

Berita ini akan diperbarui apabila klarifikasi lanjutan telah diterima.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.