Jokowi-Prabowo 2025: Retak tapi Tak Terpisah, Garis Tebal Pengamat Ungkap Ini

oleh -51 Dilihat

Hubungan antara Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), dan Presiden saat ini, Prabowo Subianto, terus menjadi perhatian publik. Meskipun keduanya kerap terlihat akrab dalam berbagai kesempatan, pengamat politik Ray Rangkuti menilai bahwa dinamika politik mereka tidak sepenuhnya mulus, melainkan mengalami keretakan namun tidak sampai putus.

Ray Rangkuti mengungkapkan bahwa pasca-jabatan kepresidenan, pengaruh Jokowi dalam kancah politik nasional masih terasa. Namun, tingkat kepuasan publik terhadap kinerjanya tidak lagi secara langsung diterjemahkan menjadi kekuatan politik yang signifikan, terutama setelah transisi kekuasaan kepada pemerintahan Prabowo.

“Soal apakah Jokowi masih stabil atau tidak, itu tidak terlalu penting lagi secara politik. Sebesar apa pun tingkat kepuasannya, tidak bisa serta-merta berubah menjadi kekuatan politik nyata,” ujar Ray Rangkuti dalam siniar PHD 4K di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Senin (3/11/2025).

Ray juga mengomentari posisi Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden. Menurutnya, kehadiran Gibran tidak memberikan dampak substansial terhadap posisi politik Jokowi.

“Walaupun ada Gibran, kenyataannya Gibran seperti tidak berfungsi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ray menyoroti hubungan Jokowi dan Prabowo yang dinilainya mengalami pasang surut. Ia mengibaratkan hubungan tersebut mengalami keretakan namun masih memiliki ikatan yang kuat.

“Retak iya, tapi masih ada garis tebalnya. Itu sebabnya sesekali mereka tetap tampil bersama di publik,” jelas Ray.

Dalam pandangan Ray, pemerintahan Prabowo kini mulai meninjau kembali sejumlah proyek warisan era Jokowi. Salah satunya adalah proyek kereta cepat Whoosh yang menuai sorotan.

Isu mengenai proyek Whoosh mencuat setelah pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa yang menolak penggunaan dana APBN untuk pelunasan utang proyek tersebut.

“Pernyataan Pak Purbaya itu membuat publik bertanya-tanya, ada apa dengan Whoosh? Kok utangnya besar sekali,” ujarnya.

Ray menambahkan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dilaporkan telah melakukan penyelidikan terhadap proyek Whoosh sejak Januari 2025, sebelum pernyataan Purbaya muncul ke publik.

Penyelidikan terhadap proyek tersebut mengindikasikan adanya dua proyek ikonik peninggalan Jokowi, yaitu Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Whoosh, yang kini menghadapi pengawasan publik.

“Kedua proyek itu dulu jadi kebanggaan Jokowi, tapi sekarang seolah dibiarkan untuk dikuliti masyarakat,” ungkap Ray.

Meskipun demikian, Ray menegaskan bahwa hubungan antara Jokowi dan Prabowo tidak akan sepenuhnya terputus. Keduanya masih terikat oleh kepentingan politik dan citra pemerintahan yang sama, meskipun hubungan tersebut terkadang mengalami friksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.