BOALEMO, TINGOHU.ID — Sebanyak 6.000 liter air bersih disalurkan jajaran Polres Boalemo kepada sekitar 18 kepala keluarga (KK) di Dusun Moronjoe Timur, Desa Tenilo, Kecamatan Paguyaman, Senin (7/9/2026).
Distribusi air tersebut dilakukan di tengah keterbatasan akses air bersih yang dialami warga akibat musim kemarau. Bantuan disalurkan menggunakan armada tangki dan berlangsung sejak sekitar pukul 11.30 hingga 15.00 WITA.
Jika dibagi rata, 6.000 liter tersebut setara sekitar 333 liter untuk setiap KK. Namun, angka itu bukan sekadar soal berapa liter air yang diterima warga. Ada pertanyaan yang lebih besar: seberapa serius krisis air bersih yang sedang dihadapi Boalemo?
Sebab, persoalan di Tenilo bukan kejadian yang berdiri sendiri.
Pada Agustus 2026, BPBD Kabupaten Boalemo mencatat sedikitnya 669 KK di empat desa Kecamatan Paguyaman mengalami kekurangan air bersih akibat kemarau. Rinciannya, Desa Wonggahu 24 KK, Tenilo 40 KK, Hulawa 84 KK, dan Saripi mencapai 521 KK. Distribusi air disebut dilakukan setiap hari selama kondisi kemarau berlangsung.
Artinya, ketika 18 KK di Moronjoe Timur kembali menerima pasokan air dari kepolisian, persoalan yang perlu dilihat bukan hanya bantuan hari itu.
Apakah krisis air Boalemo masih bersifat sementara karena kemarau, atau menunjukkan persoalan akses air bersih yang belum sepenuhnya terselesaikan?
Pertanyaan itu menjadi relevan jika melihat dokumen RPJMD Kabupaten Boalemo 2025–2029.
Data tahun 2024 yang tercantum dalam RPJMD menunjukkan dari 49.748 KK di Kabupaten Boalemo, sebanyak 5.941 KK belum terlayani sarana air minum. Secara keseluruhan, cakupan pelayanan tercatat 88,06 persen berdasarkan jumlah KK.
Kecamatan Paguyaman sendiri memiliki 11.523 KK. Dari jumlah tersebut, 1.289 KK tercatat belum terlayani sarana air minum pada 2024.
Dengan demikian, distribusi air menggunakan mobil tangki memang penting sebagai respons cepat ketika warga menghadapi kekeringan. Tetapi pada saat yang sama, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan air bersih memiliki dimensi yang lebih panjang daripada sekadar musim kemarau.
Masyarakat membutuhkan air untuk minum, memasak, mandi dan kebutuhan sehari-hari. Ketika kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi melalui distribusi tangki, pertanyaan tentang ketahanan sistem penyediaan air bersih menjadi tidak terhindarkan.
Berapa sebenarnya jumlah warga Boalemo yang saat ini terdampak kekeringan? Berapa desa yang membutuhkan distribusi air?
Dan yang paling penting, apa strategi pemerintah daerah agar persoalan yang sama tidak terus berulang setiap musim kemarau?
6.000 liter mungkin cukup untuk membantu warga hari ini. Tetapi bagi ribuan KK yang belum terlayani sarana air minum, persoalannya jelas jauh lebih besar, bukan sekadar mencari air ketika kemarau datang, melainkan memastikan air tersedia sebelum krisis terjadi.






