Komisi II DPRD Boalemo menyoroti persoalan data program inseminasi buatan, sementara Bupati Rum Pagau turun langsung mengecek 12 calon indukan sapi unggul di Karantina Pantoloan.
BOALEMO, TINGOHU.ID — Persoalan data program inseminasi buatan (IB) menjadi sorotan Komisi II DPRD Kabupaten Boalemo. Di tengah pertanyaan mengenai capaian program peternakan tersebut, Bupati Boalemo, Drs. H. Rum Pagau, diberitakan turun langsung mengecek 12 calon indukan sapi unggul di Karantina Hewan Pantoloan, Sulawesi Tengah.
Momentum ini menarik. Kamis (8/10/2026), Komisi II menggelar rapat dengar pendapat bersama Dinas Pertanian. Sehari kemudian, Jumat (9/10/2026), Bupati Rum Pagau diberitakan mengunjungi Karantina Pantoloan untuk melihat calon indukan sapi unggul yang dipersiapkan bagi Boalemo.
Namun, di balik rencana pengembangan bibit unggul tersebut, terdapat persoalan pelaksanaan program peternakan yang masih membutuhkan penjelasan.
Angka IB Dipersoalkan, Data Belum Sinkron
Dalam pembahasan program inseminasi buatan, muncul sejumlah angka yang menjadi perhatian Komisi II.
Pelaksanaan IB disebut mencapai 1.676 ekor. Dari jumlah itu, sebanyak 879 ekor diperkirakan melahirkan pada awal 2027. Namun, data yang disebut tercatat di kementerian justru berada pada angka 746 ekor.
Perbedaan angka tersebut memunculkan pertanyaan mendasar, bagaimana sinkronisasi data pelaksanaan program peternakan antara pemerintah daerah dan kementerian?
Persoalan ini penting karena data menjadi dasar untuk mengukur capaian program, mengevaluasi keberhasilan inseminasi buatan, serta merencanakan pengembangan populasi ternak di daerah.
Jika data yang digunakan belum sinkron, pemerintah perlu memberikan penjelasan agar capaian program dapat dipahami secara utuh dan tidak menimbulkan keraguan.
Bupati Cek 12 Calon Indukan Sapi Unggul
Di tengah sorotan terhadap program peternakan, Rum Pagau diberitakan mengunjungi Karantina Hewan Pantoloan untuk mengecek 12 calon indukan sapi unggul.
Sherta News mengangkat kunjungan tersebut melalui pemberitaan berjudul “Dorong Kemandirian Pangan, Rum Pagau Siapkan 12 Calon Indukan Sapi Unggul untuk Boalemo.” Harian Post juga memberitakan kunjungan Bupati ke lokasi karantina tersebut.
Langkah itu dikaitkan dengan upaya mengembangkan bibit ternak berkualitas dan mendorong kemandirian pangan di Kabupaten Boalemo.
Pengembangan indukan sapi unggul tentu dapat menjadi bagian dari strategi peningkatan populasi dan kualitas ternak. Akan tetapi, langkah tersebut juga perlu diikuti dengan pembenahan pelaksanaan program, kejelasan data, serta dukungan yang memadai bagi peternak dan petugas inseminasi.
Jangan Berhenti Pada Pengadaan Sapi
Kedekatan waktu antara sorotan Komisi II dan kunjungan Bupati menjadi momentum untuk menguji keseriusan pengembangan sektor peternakan di Boalemo.
DPRD mempertanyakan data pelaksanaan program IB, sementara pemerintah daerah menyiapkan calon indukan sapi unggul. Kedua hal ini semestinya saling melengkapi dalam upaya memperkuat sektor peternakan.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pemerintah memastikan pengembangan indukan sapi tersebut terhubung dengan program IB yang berjalan, bagaimana keberhasilannya diukur, dan sejauh mana manfaatnya akan dirasakan peternak.
Sebab, keberhasilan peternakan tidak cukup diukur dari jumlah sapi yang disiapkan atau kunjungan pejabat ke lokasi karantina. Konsistensi data, keberhasilan reproduksi ternak, ketersediaan sarana pendukung, dan peningkatan kesejahteraan peternak juga harus menjadi ukuran.
Kini, sorotan Komisi II dan langkah langsung Bupati sama-sama menempatkan masa depan peternakan Boalemo dalam perhatian publik. Yang ditunggu masyarakat bukan sekadar rencana menghadirkan sapi unggul, melainkan bukti bahwa program peternakan berjalan terukur dan menghasilkan manfaat nyata.(*)





