TILAMUTA, TINGOHU.ID — Kabupaten Boalemo akan memasuki usia ke-27 pada 12 Oktober 2026. Pemerintah daerah menyatakan momentum tahun ini tidak ingin berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diarahkan menjadi ruang evaluasi, konsolidasi, kepedulian sosial, serta pelibatan masyarakat.
Pernyataan itu menarik karena usia 27 tahun bukan lagi sekadar angka. Ia seharusnya menjadi kesempatan untuk mengukur apa yang benar-benar berubah dalam kehidupan masyarakat.
Wakil Bupati Boalemo Lahmuddin Hambali bahkan meminta momentum HUT dijadikan bahan evaluasi terhadap apa yang telah diberikan pemerintah kepada masyarakat dan apa yang masih perlu diperbaiki.
Setelah 27 tahun, apa yang benar-benar berubah?
Bukan hanya berapa banyak kegiatan yang digelar, tetapi bagaimana kualitas pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, ekonomi, infrastruktur, daya saing daerah, digitalisasi pemerintahan hingga kesejahteraan masyarakat bergerak.
Data statistik daerah yang dirilis Pemkab menunjukkan sejumlah indikator memang mengalami perbaikan. IPM Boalemo naik dari 68,78 pada 2023 menjadi 69,89 pada 2025. Kemiskinan juga turun dari 18,38 persen menjadi 16,37 persen, sementara pertumbuhan ekonomi 2025 tercatat 4,91 persen.
Angka-angka tersebut adalah capaian yang patut dicatat. Tetapi angka juga membuka ruang pertanyaan baru: apakah perbaikan indikator tersebut sudah benar-benar terasa merata di tengah masyarakat?
Sebab pembangunan bukan hanya tentang apa yang terlihat saat perayaan ulang tahun daerah.
Pembangunan juga diuji dari hal-hal yang sering luput dari panggung seremoni: warga yang masih kesulitan mendapatkan layanan dasar, kualitas jalan dan infrastruktur, kesempatan kerja, kemampuan ekonomi masyarakat, pelayanan birokrasi, serta seberapa cepat pemerintah menyelesaikan persoalan yang muncul di lapangan.
Tahun ini Pemkab berencana menghadirkan sekitar 1.000 fakir miskin, kaum dhuafa dan janda dalam rangkaian HUT ke-27.
Program tersebut bisa menjadi bentuk kepedulian sosial. Namun momentum HUT juga seharusnya menjadi kesempatan untuk bertanya lebih jauh:
Apakah setelah 27 tahun masyarakat masih harus menunggu bantuan, atau sudah semakin mandiri karena sistem pembangunan yang dibangun pemerintah?
Di situlah makna ulang tahun daerah seharusnya diuji.
Bukan sekadar bertambah usia, tetapi bertambah kualitas. Bukan sekadar meriah di panggung, tetapi terasa dalam kehidupan masyarakat.





